Dalam dunia olahraga prestasi yang semakin kompetitif, kekuatan fisik bukan lagi satu-satunya penentu kemenangan. Di Ambon, sebuah pendekatan baru mulai diterapkan untuk mengasah aspek yang lebih fundamental dalam tubuh manusia, yaitu sistem saraf. Fenomena yang dikenal sebagai neural drive menjadi fokus utama bagi para pelatih dan pakar olahraga di Maluku. Secara sederhana, ini adalah besarnya sinyal elektrik yang dikirimkan oleh sistem saraf pusat ke otot-otot yang bekerja. Semakin kuat dan sinkron sinyal ini, semakin cepat dan presisi pula gerakan yang dihasilkan oleh seorang atlet.
Salah satu implementasi paling nyata dari konsep ini adalah dalam hal melatih sinkronisasi mata-tangan. Dalam cabang olahraga seperti tinju, tenis meja, atau panahan, kemampuan mata untuk menangkap objek dan otak untuk segera memerintahkan tangan bereaksi adalah kunci utama. Para atlet KONI Ambon kini menjalani serangkaian latihan neuro-kognitif yang dirancang untuk memperpendek waktu reaksi tersebut. Latihan ini tidak hanya melibatkan gerakan fisik, tetapi juga stimulasi visual yang kompleks, di mana atlet harus memproses informasi dalam hitungan milidetik sebelum melakukan tindakan motorik.
Pentingnya aspek saraf ini didasari pada kenyataan bahwa otot hanyalah pelaksana dari perintah otak. Jika koneksi saraf tersebut mengalami hambatan atau tidak sinkron, maka kekuatan otot yang besar sekalipun tidak akan mampu menghasilkan performa yang maksimal. Di bawah naungan KONI Ambon, para atlet mulai menggunakan teknologi strobe glasses atau kacamata berkedip yang memaksa otak untuk bekerja lebih keras dalam memproses informasi visual yang terputus-putis. Hasilnya, ketika kacamata dilepas, kemampuan mata-tangan atlet menjadi jauh lebih tajam dan fokus karena jalur saraf mereka telah terlatih untuk bekerja dalam kondisi yang sulit.
Selain penggunaan teknologi, sinkronisasi ini juga dilatih melalui gerakan-gerakan balistik yang menuntut koordinasi tinggi. Pelatih di Ambon menyadari bahwa kelelahan mental sering kali datang lebih cepat daripada kelelahan fisik. Oleh karena itu, latihan neural drive biasanya dilakukan di awal sesi latihan saat sistem saraf masih segar. Dengan memberikan beban kognitif yang tepat, atlet belajar untuk tetap tenang di bawah tekanan, yang secara langsung berdampak pada akurasi gerakan mereka saat bertanding di arena sesungguhnya.