Potensi Atlet Atletik Ambon: Mengapa Perhatian Pemerintah Masih Minim?

Kota Ambon, Maluku, sejak dulu dikenal sebagai gudang pelari-pelari cepat yang secara alami memiliki keunggulan genetik dan fisik untuk cabang olahraga atletik. Sejarah mencatat banyak legenda lari nasional yang berasal dari bumi Manise ini, membuktikan bahwa daerah ini memiliki DNA juara yang sangat kuat. Namun, memasuki tahun 2026, sebuah paradoks besar masih terlihat jelas di lapangan. Meskipun Potensi Atlet Atletik Ambon sangat melimpah, dukungan sistemik dan infrastruktur dari pihak berwenang dirasa masih sangat jauh dari harapan. Pertanyaan besar yang muncul di tengah komunitas olahraga adalah: mengapa perhatian pemerintah terhadap sektor ini masih sangat minim?

Kondisi fasilitas latihan atletik di Ambon saat ini sangat memprihatinkan. Stadion utama yang seharusnya menjadi tempat menempa kecepatan para pelari sering kali memiliki lintasan lari yang sudah mengelupas dan keras, yang sangat berisiko menyebabkan cedera pada persendian atlet. Banyak calon bintang atletik dari Ambon yang terpaksa berlatih di jalan raya atau lapangan berpasir yang tidak sesuai dengan standar teknis kompetisi. Padahal, untuk mencetak pelari kelas dunia, diperlukan lintasan sintetis (tartan) yang berkualitas serta peralatan penunjang seperti blok start dan alat pengukur waktu yang presisi. Ketiadaan sarana ini membuat bakat-bakat alam di Ambon tidak dapat berkembang secara maksimal sesuai dengan standar atletik modern.

Minimnya perhatian pemerintah juga terlihat dari jarangnya kompetisi atletik tingkat lokal yang diselenggarakan secara rutin. Kompetisi adalah nyawa dari pembinaan; tanpa ajang untuk menguji kemampuan, para atlet muda akan kehilangan motivasi untuk berlatih secara serius. Akibatnya, banyak talenta hebat di Ambon yang akhirnya memilih untuk berhenti berolahraga atau pindah ke provinsi lain di Jawa yang menawarkan fasilitas beasiswa dan jaminan karier yang lebih menjanjikan. Fenomena “brain drain” di dunia olahraga ini sangat merugikan Maluku, karena daerah kehilangan aset masa depannya hanya karena masalah manajemen dan prioritas anggaran yang salah sasaran.

Masalah lain yang menghambat kemajuan adalah minimnya dukungan bagi para pelatih lokal. Pelatih di Ambon sering kali bekerja atas dasar pengabdian dan kecintaan semata, dengan honor yang sangat tidak memadai dan akses yang terbatas terhadap pelatihan lisensi maupun pembaruan ilmu kepelatihan (sport science). Tanpa pelatih yang mumpuni dan mendapatkan kesejahteraan yang layak, proses transfer ilmu kepada atlet atletik muda tidak akan berjalan efektif. Pemerintah seharusnya memahami bahwa pembangunan manusia melalui olahraga adalah investasi jangka panjang yang hasilnya mungkin tidak terlihat dalam satu tahun anggaran, namun akan berdampak besar pada citra dan daya saing daerah di masa depan.